Akar di Puncak Gede Pangrango


Foto : AminNdn, taken by : M. Fajrin

Kenapa harus gunung lagi? Batinku bergumam saat itu. Aku pernah dijauhkan bahkan dengan jarak lebih dari 850 km, namun kali ini terasa begitu berat. Bukan yang pertama memang, namun hal ini selalu menjadi salah satu ketakutanku. Bagaimana tidak jika berita yang kulihat, kudengar dan kubaca banyak tentang mereka yang hilang, ditemukan dalam keadaan (amit-amit), ah sudahlah, semoga Allah SWT melindunginya.

Ia hanya sekitar 82 km dari tempatku saat ini, namun ia berada lebih dari 2850 meter diatas permukaan laut. Dan akan tanpa kabar apapun sampai 48 jam kedepan.

---
"Apa yang telah aku perbuat? perempuan macam apa aku ini?" Gumamku dalam hati seraya kupeluk kedua kakiku, bersandar di kamar berukuran 2x3 meter ini. Dindingnya putih, masih dihiasi dengan foto-foto kecil aku dan Akar dengan jumlah yang masih sama, sejumlah usiaku saat ini. Aku biarkan itu menempel tidak beraturan. Bukan karena malasku, hanya saja agar aku bisa melihat Akar selalu di sekelilingku.

--

Kopi itu masih sangat panas saat terakhir kami bicara, Akar terus bercerita dalam diamku, tak peduli aku mau atau tidak mendengar ceritanya. Sialnya Akar selalu tahu saat aku tak memperhatikan ceritanya.

Tetes terakhir segelas capucino adalah milikku, hanya satu kopi di meja kami, dan Akar selalu tak mau menghabiskan apapun untuk yang terakhir. Akar menyisakannya untukku, Dengan entengnya dia berkata "Yang terakhir habisin, Bayar". Lelaki macam apa dia? -___-

Hari itu entah kenapa aku sangat membencinya, kadang tersirat dalam hati ingin menjadi Prilly saja biar punya cowok kayak Aliando, Bukan Akar. Endang Zakaria, kenapa harus dipanggil Akar? kenapa tidak Endang? Atau Z*kar aja? ah cowok emang menyebalkan.

Apapun yang dia ceritakan aku tak mempedulikannya, biar saja dia ngoceh kayak orang gila, sesekali saja aku hanya bergumam "hmmm". Dari semua orang pacaran, mungkin kami akan dapat award sebagai pasangan yang paling sering berantem. Kadang aku heran dengan hubungan orang yang selalu baik-baik saja, Dodi dan Leha, Anwar dan Lisa, Sudir dan Ana, Maman dan Bela, Ogi dan Lia, Mardi dan Luna, Irur dan Tia, Udin dan Indun, dan semuanya tak pernah sesering kami bertengkar.

--

"Yaudah, Aku Pergi" aku tak menjawab pamitnya, Akar hanya diam, aku tahu senyumnya adalah palsu, aku mengenalnya lebih lama dari masa sekolah SMA nya yang 4 tahun itu, iya dia gak naik 1 tahun.

--

Jam tanganku menunjukan pukul 23.55, hampir tengah malam, padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 10 kurang, terlalu cepat memang, tak apalah, aku tak bisa setting jam tangan seperti ini, dan Akar tak lebih pintar untuk mengaturnya, saat ini adalah 15 Menit setelah Akar pamit pergi.

Tak biasanya aku biarkan Akar pergi saat keadaan hatiku sedang marah, aku takutkan dia jadi kefikiran diperjalannya. Tapi sudahlah, Akar memang pantas dimarahi, kali ini sifat menyebalkannya sungguh keterlauan, mungkin jika bukan aku tak ada yang mau menerimanya. Dasar cowok kurus kerempeng, sampe celana nomer 34 saja tidak cukup. Ngaca sana, gak ada baju di Ramayana yang cocok buat Lu,,, #!-_-

Tunggu sebentar, (ke toilet dulu)

Lanjut.... 


Tok tok tok..

Yaelah pake ada tamu,,,,

"Eh Kak Sarah, tumben kesini? gak jualan ayam Sabana?" Plak, kepalaku langsung dipukul Kak Sarah. Kak sarah emang gitu, keryawati KFC, ngeselin lah, masa paket goceng KFC harganya 8 rebu, mending jualan sabana aja, walo harga saosnya gope, tapi gak semahal KFC. (Semoga gak dibaca sama jajaran manajemen KFC yah, nanti dituduh pencemaran nama baik, tapi kalo dibaca, yaudah sih emang fakta, kalo gak percaya, mampir ke blok M squere lantai 5 ada KFC deket lift, terus beli paket goceng, liat tuh di struk berapa harganya,,,, Hidup Sabana, eh tapi KFC enak, loh kok jadi ngomongin ayam goreng)


"Ada apa kak?" tanyaku, kak Sarah langsung masuk aja setelah "nggeplak" kepalaku, dia langsung ke kamar mandi dan masukin mukanya ke ember penuh air sambil nyanyi "blukbuk blukbuk,,bluk bluk bukbuk,, blukbuk blukbuk"... -___-
"Nyanyi apa kak?" 
"Ungu, Waktu yang dinanti"

Yaelah, gak jelas, 

"Na, gue nginep sini yah"

yaudah aku biarin Kak Sarah nginep, biar ada temennya, daripada galau mikirin Akar.

"Kirana Tania, Gue mau curhat, gue lagi kesel benci, marah, kecewa, galau, sedih, lapar bikinin Indomie goreng dong, jangan pake kuah" Eh Busyet,,,, Indomie goreng mah emang gak pake kuah,,,
"Yaelah Kak, malah numpang makan" dia balas dengan nyengir jahat, 

Waktu menunjukkan pukul 00.25, sebentar lagi ada ESPNFC di Net, mau liat obrolan bola dulu lah, kebetulan yang jadi expertnya ada Coach Justin dan Edwin, seru nih. Siapa tahu ngebahas jahatnya Bayer Munchen, atau kabar Rooney kalah saing sama pemuda 19 tahun. Semoga gak ada berita Arsenal.

Sedang Kak Sarah sudah mulai terlelap setelah curhatannya, aku kembali teringat Akar, sedang Apa dia jam segini, Apa dia sedang kedinginan, jangan-jangan dia sedang tidur pelukan sama cowo-cowo,, oh my God,, No,,,, semoga Akar gak jadi Homo... "Cik atuh Kar, masa kamu selingkuh ama cowo, emang gak ada cewek apa, aku tuh lebih takut kamu malah jadi homo daripada nakal sama cewek, eh jangan ding"

Kisah kak Sarah sangat tragis, wajar dia depresi dan butuh tempat curhat, coba bayangin, Kak Sarah kerja di KFC udah 8 tahun tapi masa belum pernah di ajak piknik ke Monas, terus si Hilda, anak baru udah diajak piknik ke Monas, malam-malam lagi, naik keatasnya. Gillaaa gak pilih kasih gimana coba, kan Kak Sarah Juga pengen liat ke monas malam, biar lait Jakarta dimalam hari. Mentang-mentang si Hilda adalah ceweknya Bapak Tukang bawain ayam di KFC cabang bantar Gebang, jadi dispesialin,,, semoga manajernya ilang ingatan dan jadi gila,,, ih sebel,, jadi ikut benci sama para penjilat dan pemimpin yang gak adil,,, huh

Pukul 03.02 pagi, mata ini masih terjaga, kak sarah udah tidur aja. Aku memikirkan Akar? disini aku kepanasan sehingga kipas tak boleh mati untuk bisa tidur, Gimana keadaan akar disana? pasti dia kedinginan, ditambah mungkin perasaannya beku karena aku dinginnin saat dia ajak ngobrol :(

teng
bunyi we chat hp ku, dan disana tertulis "Aku naik sekarang, nanti gak ada sinyal, kamu doain aku yah, doain juga supaya Avanger gak pada berantem, terus doain arwah superman yang dibunuh batman, inget apapun yang terjadi, jangan kasih tahu password facebook aku, dan jangan ganti foto profil facebook aku dengan foto alay kita, ay lop yu" 
Aku gak bales chat dari Akar, biar dia tahu rasanya gimana kalo chat gak dibales, mampus,,, sakit tahu,,, sama sakitnya kayak chat cuma dibalesnya singkat. 


pukul 9 pagi, kak Sarah sudah pergi karena harus jaga KFC lagi, dan akupun harus kerja, mau jualan baju di pasar tanah abang, semoga gak ada razia satpol pp hari ini.

Aku begitu marah saat Akar pergi, tak sempat kami baikan sebelum dia menaiki tangga demi tangga ke Gunung daerah Bogor itu, dan saat Akar tak ada, aku baru merasa rindu, aku merasa sangat bersalah, aku sedih. Harusnya Akar senang disana.

Saat kita marah, kita sering lupa kebaikan seseorang (kayak judul lagu). Saat ini, aku merasa aku gak adil pada Akar, tak seharusnya aku tak memberikan maaf padanya, bagaimana pun juga aku mau Akarlah yang jadi Ayah dari putra-putriku kelak, bukan Bred Pitt apalagi Farhat Abas (amit-amit)
Akar tak selamanya jahat, dia gak ganteng, mukanya aja gepeng, kumisnya kayak lele, rambutnya botak sebelah, tapi dia tuh sayang, sayang banget sama duitnya, kalo kemana-mana aku yang bayarin, seneng deh punya calon suami hemat,, lopyu Akar :* :*

Jika aku ada kesempatan minta maaf saat ini aku, ingin nulis puisi buat Akar sebagai permohonan maaf, Judulnya "Cinta Fitri seson 5" eh bukan ding "Akar di Puncak Gede"

Kopi ini sudah dingin, kita hanya saling berpandang tanpa bicara
Ini semua salahmu, kenapa memasukan parasetamol ke Kopi panas itu?

Sikap dinginku adalah kecewaku, aku tak pernah marah untukmu yang aku cintai
Tapi bercandamu kadang ketelaluan, upload poto aku yang lagi nganga di path, dan banyak yang love

Mencintaimu butuh perjuangan, aku harus saingan dengan Suri anak Pak Duloh tukang es dawet di desa kita,
Maka takkan aku melepaskanmu jika bukan kematian yang memisahkan Jack dan rose, maksudnya jika bukan kematian yang memisahkan kita

Tanganku tak cukup menjangkaumu di lebih dari 2800 meter diatas permukaan laut,
Tapi doaku menggetarkan semesta tanpa pluto di tatasurya kita.

Bila tanganku tak mampu berjabat memohon maaf darimu,
lihatlah air mataku yang tak ingin kau marah seperti aku, aku takut, 

Rasakan dinginmu disana sebagai syukur pada Tuhanmu,
Rasakan Indahnya disana sebagai kagummu pada Ciptaan-Nya

Saat aku tak dampingimu mendaki terjal dan curamnya puncak gunung,
Tuntunlah aku menjalani misteri kehidupan dimasa depan.

Maafkan egoku, Aku mencintaimu
Jangan fikirkan Nasi padang diatas sana,
nanti aku traktir disini.

--

2 hari berlalu, hari ini Akar pulang, sesampainya dibawah akar kembali berkirim pesan, kali ini dia tidak menggunakan we chat, dia kirim stiker di line, cony yang yang bibirnya jeding merah, awalnya aku fikir itu emot cium, setelah dilihat dengan seksama, ternyata itu emot ondel-ondel,,, serem sekali, aku langsung un-instal line nya.

Aku sangat merindukan Akar, hari ini kami akan bertemu, semoga kami tak bertengkar lagi dan aku yakin Akar juga pasti kangen.

Wajah bulatnya terlihat begitu manis dari kejauhan.. ah senyumnya membuatku bergetar

Pelan langkahnya menghampiriku, oh matanya mulai berkaca-kaca, sepertinya dia merasa sangat terharu dengan pertemuan ini.

Terus mendekat, air matanya tak mampu terbendung lagi, kulihat dia menangis, membuatku tak tahan dan ikut beraca-kaca..

Dia mulai berlari mendekatiku, Oh tidak apakah dia akan langsung memelukku, aku belum mandi,

Tepat di depanku, ternyata dia tak jadi memelukku, tangisannya semakin terlihat jelas, matanya merah dan akupun mulai ikut meneteskan air mata.

Kepalanya mulai dimirngkan ke kiri, Oh tuhan,,, apa aku akan mendapatkan ciuman keduaku? Aku tutup mataku, ku gigit bibirku, 

5 detik, 9 detik, kenapa Akar tak mencium-menciumku, padahal aku sudah agak manyun, aku intip dengan membuka satu mataku... betapa terkejutnya aku,

Mulut Akar tidak di depan mulutku, tapi di telingaku, Apa akar mau cium pipiku? Atau gigit telingaku? 

Nafasnya mulai terdengar jelas di telingaku, suara serak karena tangisan mulai samar-samar keluar dari mulutnya.

Lalu terdengar suara...


"Tongsis Aku ilang, aku gak bisa poto-poto dipuncak sana" kemudian Akar nangis goler-goleran, aku gak jadi di peluk, apalagi dicium, kemudian aku keplak kepala Akar, kayak waktu kak Sarah ngeplak kepala aku, sambil bilang, "Ngisin aken bae ya irukuh,,,, bocah gendeng"


T A M A T

Comments

Popular Posts