Ayah, Fitri, Nenek, Tanggung Jawab, Cinta dan Pilihan


Sumber Photo : http://sayangianak.com



Tiupan angin membelai lembut sebuah wajah mungil dalam sebuah perjalanan dengan sepeda motor. Lelaki setengah baya memegangi seorang bocah laki-laki dengan tangan kirinya dan kemudi dikendalikan oleh satu tangan kanannya. Bocah itu tertidur dengan belaian angin pedesaan yang mereka lewati. Tiba-tiba lelaki separuh baya menghentika laju motornya, menepi dibawah pohon pinus yang berjejer bak siswa sekolah dasar sedang mengikuti upacara di hari senin, begitu rapi, begitu beraturan tak serapi saatku berbaris di upacara bendera saat memasuki sekolah lanjutan tingkat atas.




Tak memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan adalah suatu pilihan agar si bocah kecil tak terbangun dari tidurnya, Lelaki itu hanya terus duduk diatas motor dan menunggu si bocah itu bangun sendiri. Itu adalah kisah ayah dan anaknya.

--

Seorang wanita muda terlihat kesakitan memegangi perutnya, dipanggilah bocah kecil untuk mencari si ibu dari wanita itu. Dengan cepat mengayuh sepedanya si bocah menemui seorang ibu lumayan tua untuk meberitahukan bahwa anaknya sedang kesakitan memegangi perutnya.

Waktu berselang tangis bayi terdengar dipenjuru rumah tua jaman Belanda, beberapa orang tetangga mulai berdatangan, senyum orang-orang yang datang berbanding terbalik dengan tangis bayi perempuan yang masih bersimpah darah.

 --

Duduk disamping bangunan dengan geribik bambu bercat putih polos dengan jendela tanpa kaca, senyum merekah saat seorang anak laki-laki yang diketahui adalah cucunya itu mencium tangan sosok yang sedang duduk itu.

Usia senja yang seharusnya dilewati bersama anak dan cucu-cucu tercinta, nyatanya malah membuatnya terpisah karena kehidupan di Desa seperti tak disukai generasi setelahnya, namun Ibu tua itu tetap setia berada disana selama puluhan tahun, sampai dia mulai mempunyai cicit.

-- 

Seseorang pria bisa sangat ramah pada semua orang, bahkan selalu bisa membuat orang-orang tertawa, tapi diapun harus tetap bijak dan berkharisma di depan anak-anaknya. Tak segan ia marah dan memukul karena cintanya.
Iya betul, kadang cinta butuh dibuktikan dengan kerasnya tamparan, jika omongan tak cukup menyadarkan maka tamparan keras dan diam seribu bahasa lebih bisa dimengerti.

Kadang cinta terlalu sulit dimengerti, saorang bocah yang tak mengerti apapun harus bingung saat tak bisa memilih. bukan karena banyak pilihan, yang lebih membingungkan adalah kita tak bisa untuk memilih. Menyakitkan saat kedua orang tua saling merebutkan diri kita untuk memilih tinggal dengan siapa, mengapa harus berpisah sehingga harus ada pilihan semacam itu?
Terlalu kecil saat untuk menentukan pilihan itu, tapi lebih jahat karena tidak ada pilihan seperti itu, malah tak ada yang mau membawanya tinggal, lalu pada siapa sang bocah harus memilih untuk tinggal?

Pohon mangga belakang rumah sudah mulai berbuah banyak, seorang bos mangga mulai menawar untuk membeli semua mangga yang tumbuh disana, namun jawaban seorang nenek menejutkan, disaat semua mangga dikampung itu dijual kepada si bos mangga itu, namun perempuan dengan kebun belakang rumah yang cukup luas berkata "Saya tidak jual mangga ini, ini buat anak-anak dan cucu-cucu saya'. Padahal mangga itu takkan habis bila seluruh anak dan cucunya memakan mangga selama seminggu tanpa henti, saking begitu banyaknya. 

--

Semua yang tersirat dan tidak kau ungkapkan, mengapa kau biarkan menjadi rahasia? Jika kamu tak punya lagi kesempatan untuk menjelaskannya, tega kah kau biarkan seorang yang kau tinggalkan hidup dalam siksaan penasaran sepanjang hayatnya?

Seperti seorang ayah saat pergi begitu saja, tanpa ada nasehat yang bisa menegarkanmu tentang arti tanggung jawab, pesannya tak sempat dia sampaikan, membuat seorang bocah hidup dengan keputusasaan saat masalah melanda perjalannya. Dia masih sangat butuh sosok berkharisma dalam hidupnya.

Bocah kecil mengajarkan sakit hati yang tak seharusnya sehebat itu, kamu bisa baik-baik saja, tapi apa kamu bisa sedikit saja coba merasakan yang orang lain rasakan? berhentilah sejenak, lalu beri cinta walau hanya sesaat sebelum malam melukiskan gambaran bulan sabit diatas luasnya lautan, sebelum seorang bapak tertidur disampingmu di dalam kendaraan umum karena lelahnya pekerjaan hari itu. Cinta itu indah dan tak seharusnya kau buat semenyakitkan rahasia yang tak terungkap bahkan sampai saat terakhir, tak seharusnya pula dinodai dengan kebisuan, jarak paling jauh dari sebuah hubungan.

Adakah suatu pilihan bijak saat kau punya semua mangga dalam pohonmu, padahal kamu tahu tak semua mangga itu matang dan manis, selalu ada hama yang menyerangnya. Begitupun pilihan didirimu, tak hanya satu insan yang mengharapkanmu, seberapa tidak percaya diri apapun dirimu, selalu ada yang mengagumimu, lebih dari sekedar seorang yang disebut aku, atau dia atau mereka. Katakan saja mangga ini untukmu, lalu dia bisa pergi dengan manis dimulutnya karena mangga yang begitu masak.

---

Purnama-purnama terakhir menghisai gedung pencakar langit kota metropolitan, sebuah taksi berhenti diujung perempatan, dua insan berpisah disebuah taksi berwarna biru, satu diantaranya mencoba menjabat tangan sedang yang lainnya acuh tak menghiraukan.

perjalanna telah usai, ayah pergi tanpa pesan, fitri menyimpan sakitnya sampai usai, Nenek mempunyai pilihan menyebalkan, pergi atau tetap tinggal adalah tawar-menawar tak berujung.

Saya berbicara pada tuhan disudut sebuah bangunan yang mereka kenal sebagai tempat bertemu dengan Tuhannya.

Tuhan, aku ingin marah ketika ayah pergi saat seminggu kami tak pernah bicara, mengapa kau ciptakan kebisuan sebagai jarak yang begitu jauh, jika Kau hukum aku dengan ini, berhentilah mengulanginya lagi, Aku tak ingin bertemu seorang yang aku cintai lalu ia bisu mengacuhkanku tanpa pesan dan tak bertanggung jawab karena menyentuh hatiku begitu dalam.

Tuhan aku ingin membenci, kenapa Kau biarkan seorang anak berpisah dari kedua orangtuanya, tangisnya tak lagi bersuara, marahnya hanya jadi diam. tampar saja aku lalu tetap temaniku, jangan kau biarkan aku tanpa cinta, aku tahu bukan hanya aku yang harus kau perhatikan, aku adalah tiga ribu empat ratus dua puluh sembilan lebih ikhsan yang mengadah mencintai, tapi apa sulitnya Kau balikkan hati orang untuk mencitai kesungguhan dosa terindahku ini? 
Cinta tak pernah bodoh sampai aku pelakunya dan kamu objeknya, tapi pergi dengan seperti itu adalah menyiksaku

Tuhan aku ingin menyerah, seorang yang begitu dekat ditempat yang begitu asing kau ambil, siapa yang membela saat aku malas makan selain seorang nenek yang rela menghangatkan tempe pagi itu? mengapa kau hadirkan lagi kehangatan lalu sekejap pergi dan aku menyaksikan kebahagiaan lain darinya saat aku masih memulihkan diri dan masih berharap waktu berhenti agar bisa sehari saja aku memiliki dengan meminjam mimpi dari tuannya.

Tapi Tuhan, aku lelaki dari setetes air hina yang kau sulap menjadi sesosok yang harus tetap menjalani hidup seprofesional mungkin.

KAU ajarkan aku untuk tetap bertanggungjawab akan cinta yang aku pilih, aku memohon ampun untuk semuanya, terimakasih untuk memilihku menjadi bagian dari ini, terus bantu aku menghadapi semuanya.

Aku merindukan orang-orang itu Tuhan, sama seperti saat ini aku merindukan keramahan yang hilang. kebiasuan dan kebekuan yang menjadi jarak terjauh.

Comments

Popular Posts